Iklan

TOLAK PARTAI TIDAK PEDULI LINGKUNGAN



Menjelang dilangsungkannya pesta demokrasi pada tahun 2009, partai politik sudah sangat gencar melakukan kampanye dalam berbagai bentuk, termasuk dengan memasang atribut di tempat – tempat tertentu. Namun di sayangkan, dalam prakteknya pemasangan atribut partai tidak di ikuti dengan semangat untuk menjaga lingkungan dengan baik.

Untuk dikota palangkaraya sendiri dapat kita lihat dengan jelas hampir lebih seribu pohon yang di paku untuk memasang atribut partai. Bahkan KALTENG POS sendiri pada tanggal 15 nov -08 pada halam 15 menampilkan gambarnya. Berkaca pada kasus pemangkasan pohon di bundaran besar pada waktu yang lalu, kejadian ini menuai protes dan tanggapan dari berbagai pihak. Bahkan dalam kasus ini sampai di blow up oleh beberapa media lokal (termasuk kalteng pos) dari awal adanya protes sampai proses perawatannya kembali.

Saat ini dengan jelas dimata publik bahwa lebih dari separuh pohon lindung di tepi jalan dikota Palangka Raya telah di rusak oleh partai politik. Partai Demokrat dan PDI Perjuangan, yang paling banyak memasang bendera partainya di pohon. Apabila di tinjau dari bentuk kemudian cara memasangnya, menunjukan bahwa praktek ini dilakukan secara terkoordinir dan di rencanakan, bukan semata aksi individual kader maupun simpatisan partai politik terkait.

Kekhawatiran yang muncul adalah ketika sikap tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan menjadi kebiasaan, sehingga bisa saja nantinya ketika para aktivis parpol ini menjadi pejabat publik maka akan keluar kebijakan yang tidak pro pada penyelamatan lingkungan.

Dari kasus ini bisa saja kita katakan tolak parpol yang tidak peduli lingkungan. Kepada parpol yang telah memasang atribut dengan merusak pohon-pohon saya hanya bisa menyerukan untuk mencopot atribut tersebut. Pemasangan atribut partai di pohon bisa saja di lakukan dengan menggunakan lem dan tali.

Untuk Pemerintah Kota seyogyanya bertindak cepat dan tegas, karena aparat birokrasi bukan siput yang bergerak lambat dan takut bila menghadapi sesuatu. Masalah sudah di depan mata dan berlangsung cukup lama, tunggu apalagi.

CALEG KELUARGA DAN KELUARGA CALEG

Oleh : Rano Rahman *)

Arah perjalanan reformasi yang telah melewati masa lebih dari sepuluh tahun kini semakin memperlihatkan gejala politik yang bersifat paradok. Hampir semua hal yang dikecam pada zaman Orde Baru seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme kini secara telanjang dipraktikkan elite partai politik peserta Pemilu 2009.

Sebagian besar pelaku politik kita lebih banyak memakai topeng, sosok sebagai penegak demokrasi di tampilkan dengan berbagai gaya dan aksi, dalam berbagai forum dan kesempatan dia berbicara demokrasi, anti oligarki, mengecam penguasa dan prakteknya, tetapi itu ternyata hanya sekedar topeng saja.

Meskipun berdiri ditengah partai politik yang membawa label demokrasi, tetaplah wajah asli di balik topeng akan terlihat di suatu saat, bahkan mulai saat ini. Mereka melanggengkan praktik kolusi, korupsi dan nepotisme, memang di balik itu semua bisa berkilah bahwa itu kita berangus sejalan dengan semangat reformasi tentunya.

Berhubungan erat dengan fenomena saat ini, dari hangar-bingar suasana menjelang pemilu 2009, politik nepotisme ramai bicarakan, ada yang mengatakan bahwa sikap tamak kekuasaan dengan membawa kerabat tidak pernah ditanggalkan. Perilaku ini seakan membenarkan untaian kalimat yang mengatakan bahwa sekecil apa pun kekuasaan cenderung korup.
Mestinya, tradisi politik kekerabatan itu hanya dijumpai dalam masyarakat yang feodalis bukan pada jaman peradaban modern. Namun, fakta itulah yang kini disuguhkan dalam penyusunan calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 2009.

Daftar Calon Tetap (DCT) Calon Anggota Legislatif telah di umumkan oleh Komisi Pemilihan Umum. Namun, hiruk-pikuk penyusunan daftar caleg sudah menembus ke luar batas tembok partai. Orang-orang dekat penguasa partai dan mereka yang mengandalkan popularitas seperti artis menduduki nomor urut topi. Ada anak, istri, suami, dan kemenakan dari lingkaran dalam kekuasaan partai yang digadang menjadi caleg. Pemilik harta berlimpah juga tidak sulit membeli nomor jadi untuk melenggang menjadi caleg.

Bagaimana nasib mereka yang sejak awal setia meniti karier dalam jalur partai politik dan tidak berlimpah uang? Mereka juga menjadi caleg, tapi berada di urutan nomor alas kaki. Mereka hanya menggantungkan harapan pada keajaiban agar bisa duduk menjadi wakil rakyat.
Menjadi anggota dewan sepertinya tergantung pada garis tangan. Ironisnya, garis itu dibuat pemimpin partai di atas tangan caleg. Kompetisi dan kompetensi tidak dipakai. Itulah wajah politik negeri ini yang memperlihatkan sifat paradoksal. Partai hanya dijadikan kendaraan untuk mempertahankan dinasti politik. Elite partai sesungguhnya ingin melanggengkan genealogi politik di kalangan anggota keluarga sendiri dalam penentuan caleg. Alasan basi yang disodorkan adalah garis keturunan penting untuk menjaga ideologi. Adalah benar bahwa genealogi politik diharapkan mampu merawat trah kekuasaan dan kelanggengan dinasti politik keluarga. Alasan lain yang sulit disangkal ialah keinginan untuk mempertahankan penguasaan atas akses ke sumber-sumber ekonomi dan finansial.

Melalui jalur kekerabatan, bukanlah mustahil DPR/DPRD Propinsi/ DPRD kota hasil Pemilu 2009 berisikan anak-beranak dan kerabat para pemimpin partai. Pemilu yang seharusnya dijadikan sarana konstitusional untuk mengganti aktor-aktor politik di panggung kekuasaan, akhirnya tidak lebih sebagai sebuah ritus demokrasi untuk mengukuhkan pementasan drama politik kekerabatan.

Panjangnya catatan kekecewaan terhadap kinerja wakil rakyat yang duduk di kursi empuk legislatif seolah tidak dijadikan alat untuk membangun kesadaran. Kini partai-partai politik seakan kembali mempermainkan perasaan rakyat dalam perekrutan calon anggota legislatif yang nepotisme. Memang jika dilihat sekilas, persoalan penyusunan caleg terkesan sebagai masalah sepele, karena tidak berdampak langsung terhadap rakyat. Tetapi, lama-lama akan tercium, ada aroma busuk dalam penyusunan caleg. Barangkali, ini yang menjadi penyebab bakal melambungnya angka golongan putih (golput). Jika mekanisme awal penyusunan daftar caleg saja cenderung kurang jujur dan melakukan nepotisme, bagiamana kedepannya.
Harapan anggota legislatif akan membela kepentingan konsituen dan rakyat mulai dipupuskan saat ini juga. Mengapa? Karena merekalah nantinya yang akan menyuarakan kepentingan rakyat dan konstituen.

Bagaimanapun yang terjadi, semua ini tentuanya ada latar belakangnya, atau dengan kata lain sebagai pembenaran mengapa harus ada caleg keluarga dan keluarga caleg. Dalam catatan saya ada beberapa alasan yang mengemuka mengenai terjadinya politik keluarga ini, yaitu:

Pertama, proses rekrutmen dan kaderisasi partai politik yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun, pada kenyataannya proses kaderisasi dalam partai politik kebanyakan mandeg, tidak pernah ada proses pendidikan kader dan rekrutmen anggota maupun pengurus partai yang baik dan sistemik. Hal ini kembali pada para elit partai yang ada, karena mereka tidak mampu menciptakan proses kaderisasi partai yang mapan.

Kedua, sikap sebagian besar masyarakat yang apatis terhadap partai politik sehingga partai politik hanya bisa merekrut orang-orang di "lingkaran dalam" partai politik untuk menjadi calon anggota legislatif. Alasan ini sebetulnya sangat tidak relevan, terbukti begitu besar animo masyarakat kita terhadap dunia politik, ini nampak dari banyaknya jumlah partai politik dan jumlah calon anggota legislatifnya.

Ketiga, partai politik lebih percaya pada anggota keluarga dari "lingkaran dalam" dibandingkan orang lain yang belum dikenal. Hal ini sebenarnya sangat relatif kebenarannya apabila ruang untuk saling mempercayai di sediakan oleh para elit partai sendiri, sehingga pernyataan ini bisa di mentahkan.

Keempat, sebagai upaya mengamankan posisi petinggi partai politik atau pejabat yang bersangkutan di segala lini. Alasan terakhir ini menunjukan bahwa prinsip oligarki kekuasaan masih di jaga kelanggengannya.

Pada prinsipnya siapa pun memiliki kesempatan yang sama dalam pemerintahan. Tidak boleh ada halangan bagi keluarga presiden, keluarga gubernur, keluarga tukang sayur, atau keluarga tukang becak untuk maju memperebutkan jabatan publik seperti kepala negara, kepala daerah, atau anggota legislatif. Namun, masyarakat juga punya hak untuk memilih seseorang yang benar-benar berkualitas untuk memegang jabatan publik sehingga relevan dengan jabatan publik yang diincarnya. Maka sekali-kali jangan pernah salahkan masyarakat apabila timbul kecurigaan terhadap calon anggota legislatif dari anggota keluarga petinggi partai atau pejabat tersebut.

Apabila partai politik memang benar-benar mengajukan calon anggota legislatif yang berkualitas dan tidak mau terus menerus dicurigai masyarakat maka segera umumkan secara terbuka informasi lengkap mengenai calon anggota legislatif yang diusungnya.

Informasi tersebut minimal harus memuat nama, foto terbaru, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan, dan pengalaman organisasi serta aktivitas sosial yang relevan lainnya. Melalui informasi yang memadai masyarakat dapat memberikan penilaian yang lebih fair terhadap para calon anggota legislatif yang diusung partai politik. Karena itu, mari kita periksa secara saksama rekam jejak caleg sebelum memilih.

Jangan sekali-kali memilih caleg yang berbau nepotisme untuk meneruskan dinasti politik keluarga, karena sudah pasti caleg yang seperti ini masuk dalam kategori politikus busuk yang harus ditolak.

* Ketua Umum HMI Cabang Palangka Raya periode 2007-2008

REFLEKSI REFORMASI

Sewindu lebih sudah Reformasi di gulirkan, tetapi bagi rakyat seolah tidak ada perubahan yang berarti untuk kehidupannya. Perubahan iklim politik ternyata tidak selaju perubahan kondisi sosial ekonomi rakyat. Melambungnya harga Bahan Bakar Minyak, naiknya harga beras, minyak goreng beserta kebutuhan dasar masyarakat turut jadi warna era reformasi ini. Setelah Gerakan reformasi bergulir kondisi rakyat bukannya menjadi membaik tetapi sangat di rasakan semakin sulit. Harapan lahirnya kehidupan berbangsa yang lebih baik seolah bagai cerita khayalan yang membuai, ini disebabkan proses reformasi ekonomi, sosial maupun politik di lakukan setengah hati. Beberapa kali pemerintahan berganti penguasa yang nampak secara kasat mata sekedar ‘ganti baju’, karena perubahan yang di harap ternyata tak kunjung datang. Reformasi kini sekedar “Slogan Tanpa Makna”, secara nyata pemerintahan pusat sampai di daerah pada realitasnya tidak bisa menjawab permasalahan - permasalahan yang di hadapi rakyat dalam kesehariannya, sangat sedikit sekali penderitaan rakyat mendapat respon pemerintah dalam penanganannya.
Menguatnya rezim Kapitalisme –imperialisme Internasional dalam percaturan politik dunia dan menghegemoninya neoliberalisme dalam seluruh lini sector national hingga unit terkecil menyebabkan eksploitasi sumber daya energi yang pro modal imperialis, menjadikan degradasi nasional yang sistemik

TENTANG KECINTAAN KITA KEPADA HMI






(Refleksi kecintaan kader HMI ditengah badai krisis yang menimpanya)


Oleh : Rano Rahman*

Jauh dari Kalimantan Tengah ini tepatnya di Yogyakarta 5 februari 1947 sebuah organisasi mahasiswa islam di bentuk. Organisasi itu ketika baru berdiri banyak ditentang orang, dari Liga Mahasiswa Yogyakarta (LMY) yang komunis sampai Gerakan Pemuda Islam (GPI) organisasi Underbow partai MASYUMI. Organisasi itu bernama Himpunan Mahasiswa Islam atau lebih dikenal dengan kependekannya HMI. Entah mengapa organisasi mahasiswa Islam itu diberi nama Himpunan, saya fikir pasti ada sesuatu dibelakang namanya. Awal perjalanan gerak organisasi ini sangat mengagumkan paling tidak 25 tahun perjalanan hidupnya adalah masa sulit penuh tantangan dimana organisasi ini lulus sejarah.

Sejarah organisasi ini akhirnya sampai ke Bumi Tambun Bungai ini, pada dekade 60-an ekspansi organisasi HMI mampir Kalteng. Lebih dari dua puluh periode kepengurusan HMI Cabang Palangkaraya telah terbentuk, tetapi kondisi HMI semakin lama semakin tak terdengar kabar beritanya, setelah beberapa kali semarak, beberapa kali dalam keemasan. Aktifitasnya kini kurang populer dikalangan mahasiswa, terutama dikampus-kampus exellent. Hingar - bingar aktifitas organisasi HMI tak terdengar lagi, yang ada hanya hiruk pikuk keangkuhan dalam buai romantisme sejarah, dimana HMI saat ini ?. Ini berdasarkan dari alumni HMI yang saya temui, saya katakan pada alumni HMI itu bahwa HMI Cabang Palangkaraya saat ini masih eksis, kami bikin kegiatan ini dan itu, alumni yadi menyanggah dikatakannya lagi ‘Tapi tidak seperti jamannya anu…kepengurusan si Anu’, intinya sekarang HMI banyak kekurangannya. Akhirnya saya hanya menarik napas.

HMI adalah organisasi mahasiswa tapi mengapa saat ini sedikit sekali mahasiswa yang berminat masuk menjadi anggota HMI ? tidak seperti dulu. Sekali lagi “tidak seperti dulu” , saya ada jawaban atas hal ini. Diantaranya disebabkan karena kebanyakan mahasiswa sekarang tidak lagi mengenal HMI. Statmen saya mungkin dianggap berlebihan tetapi ini adalah realitas yang telah saya buktikan, tidak percaya silahkan tanya kepada mahasiswa di UNPAR, ambil saja sampel mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2004 atau jurusan teknik sipil angkatan 2004 tanyakan langsung atau sebarkan angket tentang apakah mereka mengenal HMI ? sejauh mana mereka mengenal HMI ? jawaban serempak akan kita dapatkan bahwa mereka tidak mengenal HMI, organisasi apa itu HMI dimana kedudukannya, sudah pasti mahasiswa yang baru muncul dikampus lebih tidak mengenal lagi tentang HMI. Kondisi ini merupakan fenomena atas HMI saat ini, bukan hanya di UNPAR atau Cabang Palangkaraya kondisi ini bisa kita jumpai di UGM, Universitas Indonesia bahkan hampir diseluruh tanah air “Indonesia”. Sebuah kenyataan yang harus kita bicarakan terus menerus hingga ditemukan jalan keluarnya sehingga eksistensi HMI bukan hanya ulasan tentang kondisi masa lalu yang gemilang.

Contoh diatas hanya kasus atas mahasiswa lain diluar anggota HMI, ada yang lebih parah yang menimpa HMI saat ini. Sungguh ironi saat saya menyelenggarakan up grading kecil kecilan yang dihadiri lima belas anggota di HMI STAIN Palangkaraya, kasusnya adalah tidak kenalnya anggota HMI terhadap HMI sendiri, saya berfikir apalagi nilai – nilai yang ditawarkan HMI (doktrin ideologis HMI ) yang bersumber dari nilai – nilai dasar perjuangan (NDP) HMI. Soal pertama yang paling mudah adalah siapa pendiri HMI ? ternyata masih ada yang bingung, soal selanjutnya: apa tujuan HMI? (tanpa harus merinci tafsirnya) para anggota HMI tersebut masih bingung. Semakin penasaran saya dibuatnya, kemudian soal selanjutnya adalah apa sifat, fungsi dan peran HMI, serta bagaimana strukutur hierarkis kepengurusan HMI ?, para anggota HMI masih ada yang belum tahu, yang nampak di wajah adik – adik anggota HMI peserta Upgrading Managemen Organisasi dan Kesekretariatan (MOK) adalah masih adanya ekspresi kebingungan untuk mencari jawaban. Atau saudara - saudara juga masih bingung atas jawaban soal – soal saya tadi. Mungkin bagi para senior hal seperti ini juga merupakan sebuah kasuistik dari sebuah “kisah klasik di HMI”.

Gerangan apa yang terjadi di tubuh HMI saat ini, potret HMI dimata anggotanya sendiri tidak utuh ibarat potret separuh badan, atau bahkan secuil potret badan HMI, mereka atau kita sendiri tak begitu mengenal sisi – sisi kehidupan himpunan yang kita cintai ini. Ya, semua yang hadir disini adalah orang – orang yang cinta pada HMI, meski kita tak pernah bilang terus terang bahwa kita mencintai HMI, tetapi dengan hadirnya abang – abang, kanda – kanda di forum ini kalau boleh saya menilainya ini merupakan bukti kecintaan kita pada HMI. (atau kalau perlu mari kita berbisik untuk HMI, HMI dengar kesungguhanku bahwa karena Allah aku mencintaimu)

Setelah kita bicarakan tentang cinta tadi, ada yang tak boleh terlewatkan sebelum anda melanjutkan membaca penggalan kegalauan hati ini, saya ingin bertanya :

Adakah terlintas di kepala kita tentang upaya untuk menyelamatkan HMI tercinta dari badai krisis yang sedang menimpanya ?. Sekali lagi mari renungkan bersama, apa yang harus kita perbuat, caranya, bentuknya seperti apa? agar HMI dapat diselamatkan dari keadaan yang telah menimpanya ?

Menjadi kewajiban kita untuk mengentaskan HMI dari keterpurukan, karena kita cinta HMI dan cinta itu perlu pengorbanan untuk membuktikannya. Terlepas dari segala pengorbanan kita baik kadar maupun jumlah pengorbanan untuk HMI dimasa lalu, mari kita beranjak dari kondisi yang tidak menyenangkan ini, kita bangun kebersamaan yang selama ini masih tercabik, kita satukan pemikiran, kita wujudkan dengan usaha nyata, kita bangkit lagi, bersama kita bangkit, yakin…yakin…yakin usaha sampai. insya Allah.

Kita semua adalah generasi muda Islam, generasi milik umat dan bangsa. Diharapkan posisi kader umat dan bangsa bisa melekat pada kader HMI termasuk di Cabang Palangkaraya, meski bagi kader HMI gelar itu merupakan gelar yang berlebihan sebenarnya, karena sampai saat ini masih sedikit kader HMI yang teguh pendirian atas pengabdiannya untuk umat dan bangsa. Yang sangat diharapkan dari kader HMI dalam posisinya sebagai kader umat dan bangsa adalah; setelah lulus dari akademi elit “HMI”, alumni HMI ada bedanya dengan sarjana lainnya. Sarjana HMI merupakan out put tujuan HMI, insan didikan HMI adalah insan Ber-Iman, ber-Ilmu dan Ber-Amal [beramal sebagai wujud pertanggung jawaban atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridloi oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala (Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofuur)].

Untuk kita harus sadar sesadar – sadarnya, bahwa kita ber-HMI bukan hanya untuk rame-rame, sok aktivis, tetapi kita disini adalah belajar dan berjuang. Hakikat berjuang di HMI bukan setelah menjadi alumni HMI tetapi saat ini kita juga adalah pejuang, HMI adalah alat perjuangan kita . Organisasi perjuangan akan terasa perannya bila organisasi itu kuat dan solid. Bagaimana dan seperti apa jalan untuk menguatkan HMI kembali ? mari kita jawab dengan pleno ini.

Karena kita telah menyintai HMI maka kita kita harus berjuang dengan HMI, kita buktikan kecintaan kita dengan ketulusan hati dalam wujud mencipta dan mengabdi. Kita harus tetap mencintai HMI meski kita tak pernah “katakan cinta” pada HMI.

Billahitaufiq Walhidayah.

Palangkaraya, Juli 2005

SURAT UNTUK SEORANG KAWAN

Kawan apa kabarmu sekarang, apakah aksi-aksi penentangan terhadap keputusan pemerintah masih jalan di sini, dikotama ini, yach walaupun sepi aku percaya bila di hatimu tak pernah padam rasa rindu kepada keadilan. Dalam surat ku kali ini aku ingin berbincang dengan cukup banyak kata, semoga kau tak bosan untuk membacanya.
Selamat untuk SBY-JK yang telah sukses mengemban amanah selama setahun dengan berbagai keberhasilannya". Berhasil menggusur pedagang kaki lima, berhasil memprivatisasi pendidikan, memprivatisasi air, berhasil menaikkan harga BBM lebih dari 100 %, berhasil mematikan UKM, berhasil menyengsarakan rakyatnya, dan keberhasilan-keberhasilan spektakuler lainnya.

Kalimat diatas merupakan salah satu dari empat puluh satu email yang dikirim kawan-kawanku dari beberapa daerah, jika membacanya sekali lagi aku menjadi terdiam saeakan mengenang lintasan perjalanku sebagai bagian dari gerakan mahasiswa.
Setelah beberapa saat hal itu, membuatku sadar bahwa saat ini tentunya kawan kawan yang menamakan diri sebagai bagian gerakan mahasiswa bisa tersenyum "simpul" melihat keberhasilan-keberhasilan tersebut. Hebat......., salut buat SBY-Kalla !!!., salut juga untuk gerakan mahasiswa.....
Ya,... mungkin hanya itu yang dapat aku katakan saat ini. Aku bahkan menjadi teringat pada sebuah pertanyaan seorang kawan menjelang rapat mempersiapkan aksi menolak kenaikan harga BBM, di bertanya “ Apa yang kita lakukan bila perjuangan ini tidak berhasil ? bukti kegagalan aksi mahasiswa seperti ini sudah ada, dari jamannya Mega, sampai pada aksi menolak keputusan (bukan kebijakan karena tidak bijak) SBY untuk menaikan harga BBM dan aksi - aksi penentangan lainnya”. Malam itu aku cuma jawab kita lakukan saja dahulu, masalah hasil hanya waktu yang akan menjawab, aksi yang kita susun harus berbeda dengan aksi sebelumnya, misalnya kita targetkan chaos bentrok dengan aparat atau yang lainnya.
Tempo lalu kau bilang bila aksi demonstrasi yang kita lakukan itu tidak efektif lagi. Menurutku aksi jalanan bukan tidak efektif, tapi karena selama ini aksi-aksi yang dilakukan teramat sangat kecil jadi tidak mungkin direken (didengar) oleh si penguasa. Jangan lupa, SBY itu figur populis yang dipilih dengan pemilu yang paling demokratis selama ini di Indonesia, 61% pemilih Pilpres kemarin aku kira yang membuat pemerintah begitu pede menghadapi demo-demo 'kecil-kecilan' itu.
Aku kira kau tak lupa pada statemen SBY menjelang kecerobohannya menaikkan harga BBM kemarin: "Silahkan demo saya kalau keputusan saya salah..." kata SBY. Ughh....Betapa kita sebenarnya ditantang oleh SBY.
Dan, kalau kawan – kawan yang lain tahu..SBY sempat keder juga ketika digertak 15 ribu orang akan merangsek ke istana....dan benar ketika istana dikepung (meskipun tak sampai 5 ribu orang) SBY 'agak' ketakutan... "Saya sedih kenapa saya dianggap menyengsarakan rakyat," kata dia saat di Surabaya mengomentari aksi-aksi besar serentak di beberapa daerah. Kau tau komentarku, saat itu kubilang kepada kawan – kawan disini “kalau Presidennya saja sedih apalagi rakyat nya lebih dari sedih, bahkan rakyat kini sudah menangis meraung-raung sampai tak bersuara lagi, karena beratnya menanggung beban kenaikan harga BBM”
Aku kira SBY tidak akan melihat bahkan melirik kalau aksi-aksi kita tidak sekaligus massif.. Menurut perhitunganku minimal 20 ribu orang membuat macet istana sudah cukup untuk membuat bergaining dengan penguasa. Kalau cuma 10 atau 15 orang paling-paling cuma capek kepanasan.
Soo....
Mari berhimpun, tumbangkan kedzaliman. Jangan naif jangan konyol, setiap pilihan kita adalah aksi politik. Kenapa harus ragu berpolitik? Biar yang demo-demo dituduh ditunggangi kelompok politik, tapi itu kan karena kita tidak berfikir kalau ini memang benar-benar gerakan politis. Kacuali kalian memang berniat turun karena dibayar. Itu soal lain. Aku sepakat dengan pendapatmu itu.
Ada hal lain yang harus kita ingat, gerakan politik hanya bisa disatukan kalau ada Common Enemy. Itu bos, jadi biarpun akan banyak orang berlatar belakang politik macem-macem asal kepentingan sama..why not ?........
Dan lagi.......Menurutku, aksi ke jalan (ekstraparlementer) adalah satu-satunya jalan dan cara untuk mengingatkan kedzoliman pemimpin kita. Karena (bukan omong kosong) parlemen kita tidak bisa diharapkan lagi. mereka sudah terlalu lembek dengan kontrol dari fraaksi-fraksinya.
Lihat saja betapa pertunjukan serba absurd dan sifat anomalitas Yang Terhormat Anggota Dewan itu..."Ini politik, bos," ucap Rama Pratama si tetunggul mahasiswa era reformasi itu sambil terkekeh membuat justifikasi pilihan fraksinya
meloloskan kenaikan BBM.
Soo...
Jangan harapkan lagi keterwakilan. Wakili dirimu sendiri.
Kawan sampai saat ini aku masih teringat sms seorang teman yang ada di Jogja dia bilang saat detik - detik menuju jam disiarkannya harga BBM yang naik “tepatnya diDPRD DIY, disitu pusat keramaian, mahasiswa berteriak menunjukkan kepada masyarakat pedagang kaki lima, bahwa kita tidak hanya membela hak diri sendiri tetapi juga rakyat disekitar, tetapi yang terlihat seperti sebuah tontonan yang mulai melemah akibat kehabisan energi setelah seharian beraksi. Begitu juga kami disini kawan, aku sendiri bersama kawan kawan disini satu minggu setelah kenaikan harga BBM, rasanya masih ingin turun kejalan membawa kawan-kawan mahasiswa Palangkaraya menentang kebijakan gila itu, tapi mereka kelelahan sekaligus seolah patah semangat enggan aksi karena mungkin saat ini puasa telah dimulai, hanya itu jawaban sms untuknya setelah satu minggu tak kunjung kubalas.
Kau tahu sampai kukatakan “sungguh ironi gerakan mahasiswa seolah mati, tapi tidak ! kata kawan PMKRI dan HMI dengan lantang kepada ku.
Aku ingin bertanya padamu, di era privatisasi pendidikan, diera semakin susahnya bersekolah untuk kaum miskin, bagaimana cara mengajak 20.000 sampai 100.000 massa ideologis, dari rakyat kita.
Kau tahu yang ada di kepalaku saat ini bahwa rakyat kebayakan akan berfikir 100x lipat untuk mengikuti hal tersebut, karena pernah ada dan rasanya sakit berdarah - darah, pemerkosaan, penjarahan, kondisi yang chaos!!
Berteriak 1,7 , 100 , 20.000 orang, bahkan membunuh diri sendiri, selama sadar dan yakin dengan apa yang diperjuangkan merupakan kewajiban.transformasi keseluruh rakyat bahwa ada harapan kehidupan yang lebih baik... tapi bagaimana caranya membawa mayoritas diam yang tertindas itu ? kawan Moses yang katolik bilang hanya dengan Revolusi itu akan terjadi. Kutanyakan padamu haruskah revolusi ? merobohkan tirani kapitalisme dengan sistem yang lebih memihak kepada kepentingan publik.
Atau harus menunggu dana kompensasi tidak nyampe kemasyarakat, menambah daftar orang miskin akibat minyak tanah melambung sampai Rp3500, bukan hanya 1.000.000 buruh di PHK tahun depan (menurut Fahmi Idris) tapi bisa jadi berlipat, menunggu rakyat yang benar - benar putus asa, sehingga tidak hanya di Bali membunuh dirinya sendiri bahkan tiap wilayah kabupaten..?
Sehingga tidak hanya 20.000 atau 100.000 tetapi bisa jadi 200.000.000 lebih akan memperjuangkan haknya lewat ekstra parlementer !!!
Kenaikan harga BBM adalah fakta yang tidak bisa kita pungkiri. marah, kecewa, bahkan kalo bisa ingin berteriak sekeras kerasnya bukan hanya di saat jauh darinya tapi di depan mata Presiden atau bahkan menurunkan SBY-Kalla, yang telah mengorbankan kepentingan rakyatnya. Namun menurutku ada hikmah yang harus diambil dari proses kenaikan BBM ini. Paling tidak kita menjadi sadar bahwa kebijakan energi di Indonesia sangat bermasalah. mulai dari korupsi dan in-efisiensi di tubuh Pertamina, posisi pemain asing dalam industri minyak, tidak adanya dana untuk eksplorasi minyak baru ( ingat bung ...!!!, cadangan minyak Indonesia tidak lebih dari 25 tahun lagi), mekanisme ekspor-impor minyak, pemborosan energi bahan bakar pada sektor transportasi, pemborosan BBM untuk tenaga listrik, gas alam dan batu bara yang belum dimanfaatkan secara optimal, belum lagi usaha-usaha pengembangan energi alternatif.
Kita semua sepakat kenaikan harga BBM bagaimanapun harus ditentang, namun aku pikir amat strategis jika HMI organisasi kita, atau bahkan seluruh mahasiswa di tanah air ini, mampu merumuskan sebuah draft kebijakan energi nasional secara menyeluruh, untuk mencukupi kebutuhan energi nasional untuk sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, seribu tahun kedepan. Namun yang jadi persoalan mampukah HMI..mampukah mahasiswa.?. mengingat selama ini gerakan mahasiswa berhenti pada aksi penolakan, kemudian melemah seiring berjalannya waktu, kemudian menunggu moment untuk bangkit kembali.
Aku pikir kita akan menjadi garda depan gerakan mahasiswa, jika kita mampu merumuskan kebijakan-kebijakan yang sifatnya jangka panjang, tidak hanya sekedar menolak.
Kawan ….
Belakangan seorang kawan berkata jangan terlalu ngurusi negara, urus saja kampusmu yang sepertinya tidak punya pimpinan itu. Huh … kesal sekali bila kuingat itu, bagaimana tidak ! selama ini kau tahu bila kampusku itu kekurangannya di sana- sini mulai administrasi, waktu perkuliahan lambat, gedung laboratoriumku yang bocor bila aku kuliah saat hujan, sampai masalah tembok pentup jalan kekampus yang padahal adalah kewenangan pihak kampus untuk itu.
Kondisi kampusku Tentu beda dengan kampusmu disini.
Aku sadar Kita tidak akan lepas dari masalah politik nasional karena kita juga anak bangsa di Repunlik ini. Memang terlalu jauh kita memikirkan masyarakat kita jika dinamisasi masyarakat kampus kita sendiri tidak bisa berjalan. Pernah aku pikir untuk merubah kehidupan negara kita lakukan hal yang sederhana saja. seperti Kuliah baik-baik dapatkan prestasi yang baik. Lulus jadilah uasahawan baru nan kecil namun punya pola usaha yang berpihak dan tidak menindas suplier dan konsumennya. Jadilah pegawai negri yang tidak melulu main game di kantornya atau menghitung angka tak pasti dari judi togel. Menjadi birokrat yang memiliki cara pandang berbeda dengan birokrat lainnya. Atau jadilah ibu rumah tangga yang bisa mengajar ngaji anak-anak lingkungan sekitarnya. Atau menjadi teknokrat yang mampu mengelola satu wilayah kecil tanpa ada penggusuran. Atau menjadi dokter yang tidak memberi tarif mahal pada pasiennya. Atau menjadi arsitek yang mampu merancang rumah murah bagi rakyat indonesia. Atau menjadi ilmuwan yang mampu merancang teknologi sederhana dan alternatif bagi masyarakat kita.
Mulai dari bangku kuliah dan teman kuliah aku pikir itu gak muluk-muluk kecuali kita memang kalah dalam dunia kita sendiri, dunia mahasiswa.
Kau pasti tersenyum dengan kata-kataku diatas, tapi aku ingat hasil sebuah diskusiku dengan seorang kawan dari HMI Cabang Bandung satu tahun yang lalu, ada tiga tipe mahasiwa ikut pergerakan.
1. Beraktualisasi. ia mengaktualisasikan apa yang ia dapatkan dari ingkungan keluarga dan lingkungan kampusnya pada dunia gerakan.
2. Belajar. ia belajar untuk mendapatkan segala sesuatu yang dinilai baik dari dunia gerakan mahasiswa
3. Pelarian. ia melarikan diri dari segala masalah dikampusnya, dikeluarganya (seperti perselingkuhan ibunya atau bapaknya yang di penjara karena korupsi) atau dikosnya untuk hidup baru didunia yang baru. tanpa ide tanpa sumbangsih dengan banyak masalah.
Kawan pertanyaan terakhir untukmu adalah bagaimana sikap dan pemikiranmu terhadap kondisi saat ini ? aku sendiri punya dua hal yang mungkin bisa dijadikan bahan diskusi kita selanjutnya.
Pertama, untuk membuat Draft kebijakan energi
nasional secara menyeluruh, untuk mencukupi kebutuhan energi nasional untuk
sepuluh,dua puluh, lima puluh, seratus, seribu tahun kedepan.
Soal kemampuan HMI ataupun kalangan mahasiswa lain untuk membuat draft
tersebut jangan kaua tanyakan. Meski kita tak lupa bila selama ini gerakan mahasiswa termasuk HMI berhenti pada aksi penolakan, kemudian melemah seiring berjalannya waktu, kemudian menunggu moment untuk bangkit kembali.
Menurutku, bila mempertanyakan kemampuan mahasiswa bahwa apa yang bisa perbuat ? toh BBM pasti naik? merupakan sikap pesimis yang harus dibuang jauh-jauh dari semangat perubahan kita. Karena hal itu jelas menghambat Perubahan. Bukankah mahasiswa terkenal dengan agen perubahan “The Agent of Change!!!
So...., Kita harus yakin dan percaya diri dengan kemampuan kita. Bukankah sudah terbukti bahwa mahasiswa mampu melawan kediktatoran Orde Baru, walaupun reformasi yang kita rasakan saat ini adalah reformasi setengah hati dan mengecewakan kalangan mahasiswa (ini aku refleksikan dari sikap kita dalam momen mengenang reformasi dari tahun – ketahun)
Pemikiran tentang bagaimana merumuskan kebijakan
kompensasi yang cuma Rp 100.000/bulan itu tidak hanya berupa pembagian uang
saja yang sangat tidak mendidik, sekaligus cenderung alat legitimasi bagi
pemeriantah (money politik) pada rakyat miskin.
Mengingat penderitaan rakyat yang dalam ini sebagai korban dari kebijakan pemerintah yang tidak populis. Sekali lagi yang penting adalah ke keyakinan kita untuk merubah sesuatu yang tidak adil, sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Minimnya partisipasi dari rakyat yang kita bela, dan ketidakpedulian pemerintah terhadap aksi-aksi kita. Itu terlepas dari niat kita yang menginginkan adanya popularitas, menjadi terkenal, dengan diliput media massa. Kemudian pemikiran untuk menjadi mahasiswa yang baik. Kuliah, belajar baik-baik untuk kemudian menerapkan ilmu kita pada masyarakat. Adalah realitas yaitu hasil kontruksi sosial yang masih sulit untuk kita lawan begitu kata kawan karibku disini. Bagaimana menurutmu ?
Yang jelas mahasiswa harus tetap bergerak, diam tertindas atau bersatu dan berjuang dengan satu kata LAWAN !!
Mungkin terlalu agak Idealis kata - kataku tadi.
Adalah hal yang perlu kita ingat, bila Romo Mangun sudah menerapkan itu, meskipun dia bukan aktivis HMI, PMII, BEM maupun GMNI apalagi GMKI. Dia belajar arsitektur dan menerapkan ilmunya itu untuk masyarakat kali code yang nyaris tergusur.
Diakhir rangkaian kata-kataku aku berpendapat, bahwa saat ini tinggal kemauan kita untuk berubah. Jika sudah ada kemauan, pasti
ada jalan. Tuhan tidak akan merubah nasib kita selain kita sendiri yang merubahnya dan Tuhan tidak akan membiarkan sendirian umat yang berjuang
dijalanNYA.

YAKIN USAHA SAMPAI
* Plt Presiden BEM UNPAR, Anggota HMI

POTRET SEPARUH BADAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN DI KALTENG

Oleh : Rano Rahman *

Bidang pendidikan merupakan lahan yang tak pernah putus bila di jadikan sebagai bagian untuk di bicarakan. Selalu hangat dan akan terus berkembang, baik itu mengenai perkembangan di lingkup kebijakan maupun pada ranah teknisnya. Jauh hari sejak berdirinya negara Indonesia, pendidikan untuk rakyat secara tersurat telah menjadi salah satu cita – cita di Proklamasikan-nya Republik Indonesia yang kita cintai ini. Upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan jembatan untuk mencapai kesejahteraan umum, sehingga cita – cita menciptakan keadilan sosial dan perdamaian abadi dapat tercapai. Adanya sumber daya manusia yang secara kuantitatif dan kualitatif dapat diandalkan merupakan faktor salah satu pemacu perubahan kearah yang lebih baik di Republik ini.

Meperhatikan warta faktual pendidikan Kalimantan Tengah saat ini, ibarat melihat potret setengah badan yang tidak di ketahui kondisi utuh yang sesungguhnya. Hal ini nampak bila kita telusuri ke daerah-daerah pelosok, dimana masih sangat banyak kekurangan dibidang ini. Baik dari segi kebijakan daerah, sarana – prasarana, permasalahan guru (termasuk pendidik bidang agama untuk siswa yang bukan seagama), masalah buku dan hal lain yang mungkin masih jauh lebih parah dari yang kita bayangkan, sangat jauh dari potret yang selama ini ditampilkan, kondisi sesungguhnya sangat memprihatinkan.

Potret separuh badan yang tidak jelas bagaimana kondisi bawah, bagaimana kondisi di tengah, bagaimana kondisi pendidikan di bagian - bagian yang tak pernah terfikirkan sebelumnya tidaklah cukup untuk dijadikan landasan untuk merubah pendidikan di Kalimantan Tengah ini. Terperangahnya Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah melihat kondiasi pisik sekolah dibeberapa daerah (Kalimantan Tengah Pos 7&8/11/2005) sebenarnya belum apa-apa bila di bandingkan dengan potret utuh pendidikan Kalimantan Tengah yang sesungguhnya. Sehingga menjadi hal pasti bila rendahnya taraf pendidikan masayarakat lebih parah dari rendahnya taraf pendidikan aparatur pemerintahan. Sekolah tanpa dinding, sekolahan uzur, tidak proporsionalnya jumlah guru dikota dan di desa serta setumpuk permasalahan pendidikan yang nampak di depan mata kita, hanya potret yang tercabik, gambaran tidak utuh dari pendidikan di Kalimantan Tengah.

Sisi lain dari kondisi pendidikan seperti masalah mutu, manajemen, anggaran, sistem pengawasan pelaksanaan pendidikan, belum di lihat secara detail. Kalaupun didapatkan gambaran keseluruhan dari semua keterpurukan pendidikan di Kalimantan Tengah di tampilkan, yang ada pun tentu mungkin sebatas gambar buram. Ini disebabkan perilaku-perilaku Asal Bapak Senang, ternyata telah mengakar di jajaran dinas pendidikan. Terbukti dengan masih banyaknya lilitan masalah di tubuh pendidikan Kalimantan Tengah setelah sekian lama republik ini berdiri, setelah sekian tua provinsi ini berumur, tidak adakah yang dikerjakan sebelumnya ? apakah mungkin karena pejabat yang ada selama ini terlalu terlena dengan angka nilai proyek, sehingga hal serius meningkatkan taraf pendidikan untuk adanya SDM yang berkualitas terlupakan ? sehingga menjadi bumerang ketika pengadaan buku pun harus jadi korban keserakahan.

Hasil penglihatan terhadap gambar buram tersebut adalah bukti bahwa keseriusan dalam hal kebijakan maupun pelaksanaan teknis bidang pendidikan masih sangat kurang. Berkaca pada saat mahasiswa melalukan audiensi dengan anggota DPRD Provinsi (15/10/2005) untuk membahas beberapa masalah pendidikan, saya cukup kecewa karena pada saat itu ada anggota dewan yang terhormat terkesan kurang respek bahkan tertidur. Padahal saat itu kami ingin serius, konkrit dan solutif, tetapi kesan yang kami tangkap dari sana adalah bertele tele, tidak semuanya menyimak setiap poin yang dibicarakan. Hal lain yang membuat kami terkejut atau mungkin karena kami tidak tahu, saat audiensi disebutkan bahwa anggaran untuk pendidikan di Kalimantan Tengah mencai 16 % dari dana APBD, tetapi berselang dua hari setelah itu muncul statmen Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah pada harian Kompas edisi cetak 17/10/ 2005 disebutkan angka di bawah 6 %.

Ketika kita berbicara tentang mutu pendidikan Kalimantan Tengah sudah pasti akan dihadapkan dengan berbagai alasan untuk membenarkan bahwa rendahnya mutu pendidikan disini dikarenakan faktor minimnya sarana penunjang, sehingga jangankan bicara mutu sedangkan gedung dan jumlah guru maupun sarana penunjang lainnya pun masih sangat jauh dari harapan. Kondisi ini tidak dapat disalahkan menjadi tantangan kedepan adalah apakah akan ada perubahan signifikan dari kondisi saat ini, atau hanya terjadi perubahan yang tidak terlampau menggembirakan, sekedar daripada tidak ada perubahan sama sekali.

Dari berbagai permasalahan diatas bersama kawan – kawan mahasiswa dari beberapa elemen antara lain PMKRI, HMI, PMII dan BEM Unpar telah dibuat rumusan pemecahan yang mungkin masih sederhana ataran lain, yang pertama perlu penanganan serius untuk membenahi pendidikan di Kalimantan Tengah, tanpa melupakan UU sisdiknas yang ada perlu dibuat kebijakan khusus pendidikan oleh legislatif dan eksekutif. Kedua maksimalisasi anggaran pendidikan sebesar 20%, sebagaimana telah ditetapkan UU, untuk dilaksanakan di Kalimantan Tengah. Ketiga meningkatkan kualitas dan kuatintas guru karena diakui perlunya meningkatkan mutu pendidik dan penyimbangan rasio murid dan guru. Keempat meningkatkan kualitas gedung sekolah di daerah – daerah pedalaman. Sehingga ada kesetaraan sarana pisik bangunan sekolah di setiap daerah. Kelima maksimalisasi kontrol dewan perwakilan rakyat dalam kontrol terhadap bidang pendidikan. Keenam adanya pengawasan terhadap sosialisasi dan penerapan UU sisdiknas. Ketujuh kepada seluruh pihak masyarakat untuk selalu mengontrol perkembangan sektor pendidikan di Kalimantan Tengah sehingga ada evaluasi sejauhmana atas tumbuh kembangnnya pendidikan sebagai upaya mencerdaskan masyarakat Kalimantan Tengah.

Dengan doa dan ikhtiar semoga dimasa yang akan datang perubahan bidang pendidikan benar – benar terjadi dan sesuai harapan. “Bangunlah Badannya, Bangunlah Jiwanya”

*Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangka Raya (BEM UNPAR)

Pengurus HMI


MENYONGSONG PERUBAHAN

Belajar dari pengalaman, berguru pada zaman, menggali dari lingkungan, dan belajar dari diri sendiri, paling tidak itulah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki diri. Belajar dari pengalaman adalah salah satu perbuatan yang bisa kita lakukan untuk melompati lubang kesalahan kedua, atau pun ketiga dan kesekian kalinya. Karena ada pepatah bahwa keledai pun tak akan jatuh terperosok pada lubang yang sama pada jalan yang sering dilaluinya, dan manusia bukan keledai.

Belajar dari zaman adalah belajar dari sejarah masa lalu, artinya dari pokok – pokok kejadian yang telah berlangsung dan menjadi sejarah, bisa kita jadikan ibroh sebagai kaca untuk kehidupan saat ini dan masa yang akan datang, sehingga kita bisa menjadi lebih baik dari waktu kewaktu. Belajar pada lingkungan bukan hal mustahil yang tidak bisa kita lakukan, belajar dari seorang teman yang senantiasa pada kebaikan. Belajar dari diri sendiri juga merupakan belajar untuk bisa memperbaiki diri. Inti nya adalah belajar untuk berubah, belajar dan belajar.
Bukan hal yang mustahil setiap manusia bisa merubah dirinya karena Tuhan sendiri telah menggariskan bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kita yang merubahnya. Tidak akan ada perubahan sedikitpun pada sesorang yang telah menjalankan puasa selama satu bulan penuh tanpa ada keinginan besar untuk merubah hari – hari setelah itu. Apabila tanpa kesadaran kita tak mau berubah, apakah hidup kita tidak lebih dari sebuah akumulasi kemunafikan, bermasyarakat dalam kemunafikan, berorganisasi dalam kemunafikan, atau bahkan beragama dalam kemunafikan.

Beragama dalam sebuah kemunafikan, adalah hal yang mungkin tidak lazim di sebutkan. Orang yang biasanya tak pernah ke surau, berbuat baik, menghindari maksiat, miras, judi, bahkan aturan di masyarakatpun dirubah, seperti pengendalian THM, tempat zina dan lain sebagainya. Padahal berbuat baik itu tidak hanya dilkukan saat saat tertentu, seperti bulan ramadhan, saat menjelang natal, ketika shalat jum’at ketika diruang sembahyang, ketika kita ditempat tempat suci pura, wihara gereja bahkan masjid. Sehingga bagaikan dalam sebuah kesurupan masal kita telah melakukan kemunafikan, karena hanya sedikit orang yang tidak melakukan itu. Bahkan kalau kita jujur saya dan pembaca sekalian juga masuk kedalam jamaah kemunafikan. Luar biasa, sangat spektakuler gerakan kemunafikan ini.

Meretas jalan perubahan setelah satu bulan memperbaiki diri di “bengkel” ramadhan sepertinya adalah hal yang sangat sulit, buktinya bisa kita ambil pada bulan setelah ramadhan. Tidak usah pada bulan yang jauh – jauh dari bulan ramadhan, menjelang ramadhan berakhir masyarakat kita telah mempolakan dirinya berlebih – lebihan, Syawal pun menjadi bulan tempat berlebih-lebihan, makanan dibuat melimpah dibeli baju yang baru, uang dihambur-hamburkan. padahal baru berapa saat kita tinggalkan ramadhan. Belum tujuh bulah kita berpisah dengan bulan yang katanya sebagai tempat untuk intropeksi diri terhadap ketamakan duniawi yang tidak wajar.
Satu minggu setelah ramadhan, masjid sepi kembali, jamaah sholat yang membludak, kuliah tujuh menit, siraman rohani televisi, acara penyejuk iman, kunjungan ke panti asuhan dan segunung kegiatan berbuat baik kita tiadakan lagi. Hingga saling memaafkan, bersilaturahmi, meminta maaf dan mengikirim ucapan mohon maaf lahir batin kepada tetangga, kerabat kenalan handai taulan pun seolah harus dilakukan saat hari raya idul fitri. Tidak kah jika diwaktu lain juga kita selalu berbuat baik, menhindari maksiat, saling memaafkan kita lakukan terus menerus.

Tanpa berlindung dari kalimat “ini kan waktu untuk pembelajaran, kita akan coba untuk memperbaiki diri dari hari - kehari” bukan kalimat itu yang diharapkan sekarang, tetapi langkah nyata dari seluruh elemen. Dari pihak MUI, NU, Muhamadiyah, Keuskupan, dan lembaga agama yang ada, adakan program semacam “ramadhan sepanjang tahun” atau apapun namanya. Karena kontruksi sosial yang terbangun entah sejak kapan, dan dari mana asal budaya seperti ini, yang berakar dari kemunafikan ini harus dibabat habis.

Pihak pemerintah pun sangat, tunjukan kepedulian sosial pemegang kekuasaan atas penderitaan rakyat, dengan keputusan yang berpihak pada rakyat kecil, bukan dengan menaikan harga BBM dan mempraktekkan money politik dengan kedok BLT, bukan dengan menaikan anggaran tunjangan pejabat ataupun anggota DPR yang sudah enak – enakan tidur di rumah gedong (mewah) dan bukan juga dengan kegiatan – kegiatan lips sekedar untuk menjaga popularitas biar dipandang lebih dekat dengan rakyatnya padahal sebaliknya.

Dalam salam salah satu perkataannya Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, ada tiga golongan manusia dalam menghadapi kehidupan sehari – harinya. Apabila hari ini lebih burk dari kemarin maka manusia tersebut termasuk kedalam golongan orang yang celaka, apabila hari ini tidak ada perubahan dari kemarin (stagnan) maka manusia tersebut termasuk dalam golongan orang merugi, sedangkan jika hari ini lebih baik dari hari yang kemarin maka manusia termasuk kedalam golongan orang yang beruntung.

Menjadi pertanyaan saat ini adalah akankah kita bersama lakukan kemunafikan ini terus menerus tanpa ada perubahan sedikitpun ? tanpa belajar dari pengalaman, berguru pada zaman, menggali dari lingkungan, dan belajar dari diri sendiri. Abdullah Gymnastiar “Aa Gym” berkata perubahan bisa kita mulai dari yang terkecil, dari saat ini, dan dari diri sendiri.
Semoga Tuhan memberikan kelapangan dada kepada kita untuk senatiasa berbuat baik sesuai perintahNya. Dengan Falsafah Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Kemarin, kita singsingkan lengan baju, kita songsong perubahan. Yakin Usaha Sampai


* Plt Presma BEM UNPAR
Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Sebuah Tulisan Yang di terbitkan oleh Kalteng Pos Tepat pada Hari Raya Idul Fitri tahun 2005

REVOLUSI UNTUK MEMBANGUN INDONESIA KEMBALI

Tantangan dan hambatan kehidupan bangsa secara gflobal saat ini tidak dapat dikatakan dalam keadaan yang biasa biasa saja, tetapi dalam keadaan yang “emergency” sangat mengahawatirkan. Kondisi perpolitikan yang tidak menentu arahnya juga menambah kekalutan rakyat dalam menghadapi tantangan itu, dengan bergulirnya roda reformasi banyak sekali perubahan yang terjadi, dari kepemimpinan, pemerintahan, undang undang hingga tatanan ekonomi. Sebagaiman dirasakan stabiliytas politik sangat mempengaruhi kondisi riil bangsa ini. Perekonomian akan dianggap stabil apabila kondisi politiknya pun stabil, ketahanan nasional pun tidak lepas juga dari kondisi politik dalam negeri. Adakalanya ketika kondisi politik sudah mulai mendingin ekonomi mampu bergerak walaupun masih terseok, dari contoh ini nampak peran dari politik dan oknum – oknum yang terkait di dalamnya terhadap kondisi kehidupan bernegara samgat dominan. Oleh karena itu munculah pemikiran – pemikiran baru yang menginginkan kondisi politik dan kehidupan nasional yang ideal. Bergulirnya ide refomasi dan adanya pergantian kepemimpinan nasioanal seolah tanpa ada yang mengontrol. Orang bisa berteriak tentang kebebasan, HAM, dan menggonta ganti tampuk kepemimpinan, seolah olah tanpa ada batasnya lagi. Itulah ekspresi dalam menikmati kebebasan. Perubahan yang seperti ini pada akhirnya akan membawa kepada satu titik kelelahan (klimaks). Setelah mencapai titik kelelahan yang berperan bukan lagi otak yang sehat lagi, tapi kepentingan demi kepintimgan.

Dari paparan diatas kita dapat menyadari bahwa kondisi politik yang harmonis akan membawa bangsa ini kearah kehidupan yang lebih baik. Reformasi mati muda begitu bunyi dari sebuah penggalan kata di salah satu harian ibukota. Benarkah itu, kita harus menganalisanya terlebih dahulu. Kita sadari saat ini kita semua hidup dalam satu sistem yang dibuat oleh tangan – tangan manusia dengan segala keteerbatasannya. Undang – undang tinggalah undang undang, peraturan hanya tulisan tulisan yang tak bermakna, dan banyak lagi bertumpuk tumpuk aturan untuk membuat tatanan kehidupan bernegara yang ideal. Money politik bukan omong kosong, korupsi bukan berita basa basi, ditegakkannya hukum hanya simbol belaka. Apa yang telah dicapai oleh REFORMASI jika kondisi global bangsa ini lebih buruk dari orde sebelum ini. Mungkin kata –kata kata reformasi mati muda itu akan lebih tepat bila diganti dengan kata ‘reformasi hanya slogan’. Idiom baru muncul lagi, indonesia harus mengalami “reformasi jilid kedua” kata beberapa kalangan menyebut demikian, upaya menghidupkan kembali ruh reformasi yang telah mati muda tetap dilakukan, meski dengan jalan yang sedikit berbeda. Pada awal terjadinya mobilisasi gerakan mahasiswa menjelang runtuhnya orde baru reformasi dianggap mampu mengatasi problematika bangsa ini. Reformasi dianggap mampu mengganti tatanan yang keropos selama ini. Dengan reformasi kita bisa menerapkan tatanan bahkan paradigma baru kehidupan bangsa ini. Revulusi damai tentunya pilihan kita sebagai umat islam. Dengan merubah sistem secara total sampai keakar akarnya indonesia akan berubah. Revolusi damai dapt dilakukan kapan saja sekarang pun jadi

Revolusi adalah kata yang tidak asing bagi perjalanan sejarah NKRI. Dulu Bung Karno dalam memimpin negeri ini dimulai dengan sebuah gerakan yang sudah sangat dikenal di dunia ini yaitu revolusi. Iran sudah melakukan Revolusinya, dengan kejadian yang terkenal yaitu revolusi iran. Kemudian diakhir dekade sembilan puluhan dunia kembali dikejutkan dengan adanya gerakan revolusi tanpa darah di negerinya Jendral V. Musyaraf, sekaligus dia yang menjadi pemimpinnya.

Revolusi yang dicita – citakan saat ini adalah revolusi yang mampu membawa keadaan yang ideal berdsarkan alqur’an dan sunnah, sebuah cita – cita dalam hati setiap muslim yang sadar bahwa menegakkan hyukum Allah itu adalah wajib. Semua ulama akan berkata sama bial ditanya apakah sistem kita ini merupakan sistem thagut, jawabannya ya. Untuk itulah kita sebagi muslim yang senantiasa menmgharap ridha Allah harus merasa terpanggil untuk membela dan memperjuangkan islam sampai titik darh penghabisan. Islam adalah Way Of Life kita, pandangan hidup kita, mutlak harus kita laksanakan segala perintah dan ajaran – ajarannya tanpa menabah atau menguranginya. Sungguh sebuah perjuangan yang ppanjang. Kesadaran bahwa isalam adalah satu – satunya jalan yang harus kita tempuh dalm menghadapi perjalanan hidup ini tentunmya harus sesuai dengan kaidah – kaidah yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Rasul muhammad dalam menegakan kalimat liillah laillahaillallah dimuali dengan pembenahan aqidah. Dengan benarnya seorang muslim dalam beraqidah maka segal tandingan tandingan Allah mutlak harus lenyap dari muka bumi ini.

Yang menjadi pertanyaan agenda apa gerangan yang harus dilakukan oleh kaum muslimin saat ini. Jawabannya, sesuai fatwa para ulama ahlussunnah bahawa yang pertama adalah tasfiyah kemudian yang kedua tarbiyah. Itulah revolusi kita yang sebenarnya.

Tasfiyah adalah pembersihan tauhid dari syirik, menhapus bid’ah,dan segal sesuatu yang mengada ada dalam agama.

Benarkah Revulosi mampu merubah keadaan ? jawaban dari pertanyaan inisangat subjektif tergantung individu masing masing

PENEGAKAN HUKUM YANG TERCORENG

Proses penegakan hukum di bidang pengungkapan kasus KKN dan praktik – praktik yang mengakibatkan kerugian negara yang saat ini digelar baik oleh kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan, sangat harus untuk dibuka informasinya secara transparan. Hal ini harus dilakukan agar masyarakat dapat ikut serta menilai apakah proses penegakan hukum telah berjalan dengan baik atau sebaliknya, karena bisa saja penegak hukum bermain mata dengan tersangka.

Keterbukaan menjadi sangat penting karena saat ini masyarakat menilai bahwa proses pengakan hukum dinegeri ini hanya sandiwara, masyarakat menilai penegakan hukum di bidang pengungkapan kasus KKN dan praktik – praktik yang mengakibatkan kerugian negara hanya sebagai permainan kotor antara penegak hukum dengan terdakwa maupun tersangka. Asumsi ini semakin kuat dimata masyarakat karena sebagaimana kita ketahui penegakan hukum seolah – olah hanya menyentuh pelaku kriminal, misalnya pengadilan pembunuhan, perkosaan, perampokan, narkoba dan kasus – kasus lain .

Meskipun penegakan hukum seamata – mata bukan hanya di bidang pengungkapan kasus KKN dan praktik – praktik yang mengakibatkan kerugian negara tetapi kejanggalan – kejanggalan dalam penegakannya selalu muncul dimata kita, kejahatan lingkungan, korupsi, penyimpangan anggaran, semuanya masih jauh dari harapan. Penilian masyarakat tidak dapat di salahkan tetapi yang perlu di benahi adalah bagaimana para pelaku kejahatan terhadap negara ditindak dengan tegas tanpa memandang kedekatannya dengan penguasa, mantan orang penting, sampai kepada orang yang memiliki harta banyak. Penegakan hukum dengan memandang bulu seperti ini kerap dipertontonkan, meskipun dengan dalih bermacam-macam toh semua sangat jelas terlihat. Kita ambil contoh kecil saja seorang pelaku kejahatan terhadap negara dengan mudahnya meminta tahan luar dengan alasan sakit, padahal sesungguhnya orang itu masih sehat segar bugar, ujung –ujungnya atas nama orang penting atau jaminan sekian juta rupiah sang penjahat dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal diberikan tahanan luar. Setelah diluar tahanan segala agar bisa bebas dari jeratan hukum segala upaya dilakukan, dari mencoba menyogok jaksa, hakim sampai kemudian kabur ke luar negeri, menjadi buronan hilang entah kemana. Kenyataan seperti ini bukan hanya terjadi satu kali tetap lebih dari itu, seolah rentetan seperti modus seperti ini merupakan lagu lama yang siap putar kapan dan dimana saja di Republik ini. Penegakan hukum harus menjunjung tinggi nilai keadilan, kejujuran, memberikan perlakuan wajar, Non-diskriminatif juga dan tidak bisa dilupakan aspek-aspek kemanusiaan. Tetapi, saat ini yang menjadi tanda tanya besar sudahkah semua itu dilaksanakan? harapan atas terlaksananya pengadilan bersih dan jujur sangat besar di setiap kepala masyarakat indonesia.

Harapan masyarakat kedepan sangat tidak muluk – muluk dan bisa dicapai jika didukung oleh perangkat yang jelas dan berkualitas baik dari payung hukumnya maupun para penegak hukum sendiri. Peran pemerintah sangat dinantikan jangan buat masyarakat luas menjadi lebih tidak percaya lagi kepada penegakan hukum di Republik ini, sehingga kasus main hakim sendiri seperti membakar pencuri hidup – hidup tidak akan pernah terjadi lagi.

Menengok pengungkapan kasus KKN dan kejahatan kepada negara di Kalteng. Berkaca dari keadaan saat ini, sebagaimana di lansir Kalteng Pos beberapa bulan yang lalu saat ini ada 11 kasus besar yang sedang di tangani kejaksaan tinggi Kalimantan tengah . Sangat ditunggu informasi yang jelas atas prosesnya, kasus apa, siapa yang terlibat, dan berapa lama pihak penegak hukum akan menyelesaikannya. Kejahatan kepada negara adalah penghianatan kepada negara, begitu juga bila itu terjadi di Kalimantan Tengah karena dengan melakukan tindak kejahatan kepada negara berarti telah mengurangi hak rakyat kalteng, dalam perannya untuk menikmati hasil bumi maupun hidup layak. Saat ini kasus kasus yang melibatkan bekas dan orang penting ada di Kalteng adalah salah satu soal ujian kepada penegak hukum. Akan mampukah memenuhi harapan masyarakat kalteng ?, hanya waktu yang akan menjawabnya kita hanya menunggu.

Sorotan selanjutnya atas penegakan hukum baik lokal maupun nasional adalah peran media. Peran media (cetak dan elektronik) juga ditunggu aksi nyatanya, jangan sampai insan pers menambah kisruh dan kacau suasana penegakan hukum. Hal ini sengaja saya ungkapkan karena ada indikasi kuat mereka yang duduk di kursi pesakitan sebagai tersangka, berupaya menutup – nutupi agar kasusnya tidak di beritakan. Modusnya bermacam – macam dari mengamcam sampai dengan membagi angpao kepada wartawan yang meliput kasusnya atau langsung kepada pimpinan medianya. Tanpa komitmen yang tinggi dari berbagai pihak semrawutnya upaya penegakan hukum dinegeri ini mustahil akan ter urai.

Untuk menjaga kepercayaan rakyat penegak hukum saat ini harus bergerak cepat, sabar dalam berjuang, dengan tetap mengedepankan objektivitas dan kebenaran menjadi kuncinya.


Yakin Usaha Sampai.

SETETES HARAPAN KEPADA KAHMI

Sejak berdirinya pada tanggal 17 September 1966, Korps Alumni HMI (KAHMI) senantiasa menjadi perhatian yang cukup pada kalangan HMI, begitu pun proses pengembangan KAHMI di kalimantan tengah akhir-akhir ini tidak lepas dari perhatian HMI dan melahirkan harapan. Munculnya perhatian dan harapan dari kalangan HMI cukup beralasan karena KAHMI sendiri lahir di bumi Indonesia pada saat kongres HMI, tepatnya pada kongres HMI ke 8 di Solo, KAHMI lahir bersama-sama dengan Korp HMI-wati (KOHATI).

Dilihat dari sisi histories KAHMI dan KOHATI dibentuk dari satu induk organisasi yang sama, akan tetapi perjalanan hidup kedua organisasi ini berbeda, walaupun masih ada persamaan. Ide mendasar terbentuknya KAHMI adalah keinginan adanya wadah kekeluargaan alumni HMI, hasrat ini kemudian tersalurkan pada musyawarah Nasional Alumni HMI pada forum kongres HMI yang ke 8 di solo pada 10-17 September 1966. Melalui deklarasi Munas alumni HMI 15 September di sepakati di bentuknya Korps Alumni HMI yang kemudian di sahkan pada tanggal 17 September 1966. Pada awalnya KAHMI sendiri merupakan badan khusus HMI sebagai tempat informasi sekaligus berfungsi sebagai wadah konsultasi bagi HMI setempat. Sejalan perkembangan HMI perkembangan KAHMI dari waktu mengalami berbagai dimanika, hingga akhirnya terdapat perbedaan organisatoris yang sangat mendasar antara KAHMI dan KOHATI. Saat ini KOHATI masih memiliki hubungan organisatoris dengan HMI, sedangkan KAHMI yang semula memiliki hubungan organisatoris dengan HMI pada tahun 1987 secara resmi putus hubungan dengan HMI. Putusnya hubungan organisatoris ini tidak lain disebabkan karena pada saat itu KAHMI sudah menjadi ormas tersendiri. Sejak itu kemudian dibentuk Presidium KAHMI nasional.

Keberadaan KAHMI di Kalimantan Tengah akhir – akhir ini cukup menjadi perhatian khusus di kalangan anggota, pengurus maupun alumni HMI. Menjadi sebuah hal wajar apabila ada perhatian dan harapan atas perkembangan KAHMI di Kalimantan Tengah. Meski saya menyebutnya setetes harapan minimal itulah yang bisa di berikan saat ini. Setetes harapan bisa diartikan kecil maupun sebaliknya, setetes harapan bisa dianggap kecil bila keberadaan KAHMI tidak memiliki makna, adanya seperti tiada, peran dan fungsinya sebagai lanjutan perwujudan pengabdian dalam perjuangan mencapai tujuan HMI atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT tidak dirasakan. Sama halnya ketika adanya KAHMI justru menjadi batu sandungan atas terciptanya masyarakat cita Indonesia yang adil dalam kemakmuran, dengan demikian kepada KAHMI harapan itu menjadi semakin kecil bahkan tidak lagi setetes, mungkin setitik pun tidak sampai. Adanya KAHMI bukan untuk merebut kepentingan sesaat yang bisa melahirkan praktek-praktek penyalahgunaan kesempatan dengan jalan mengambil kesempatan di tengah kesempitan bangsa yang besar dalam kungkungan krisis multidimensi dalam ritme geliat perubahan menuju Indonesia yang dicita-citakan.

Manfaat adanya KAHMI tentunya bukan hanya untuk pengurusnya saja, akan tetapi bagaimana peran KAHMI kepada anggota – anggotanya yang mengalami kesulitan bisa di buktikan dalam langkah yang lebih kongkrit dan nyata. Sama halnya bila KAHMI di analogikan dengan sapu lidi, sebatang lidi tak akan mampu membersihkan sampah yang besar, akan patah sebatang lidi tersebut bila dipaksakan untuk menyingkirkan sampah besar. Selain itu bila di ibaratkan sebuah tali pada sapu lidi juga, ikatan KAHMI harapannya adalah pemersatu, tidak ada kalimat konflik dalam KAHMI, baik itu konflik pribadi mapun konflik dalam tataran yang lebih luas.

Harapan berkembangnya wadah Alumni HMI di Kalimantan Tengah menjadi besar ketika KAHMI tidak hanya mampu menyatukan tetapi lebih merekatkan potensi umat islam sekaligus menjadi pilar penting bagi perkembangan dakwah Islam di Kalimantan Tengah. Harapan yang sebelumnya berupa tetesan kecil akan menjadi sebuah tetesan harapan yang besar, bukan hanya tetesan ibarat tetesan hujan gerimis, melainkan tetesan yang sangat besar hingga tetesannya mampu mewarnai bumi Kalimantan Tengah. Solidnya KAHMI di bumi tambun bungai juga menjadi harapan bagi kaum lemah, minimal hal ini tercermin ketika pelantikan KAHMI kota Palangkaraya disebutkan bahwa program kerja KAHMI di kota palangkaraya kedepan lebih dititik beratkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat baik dengan metode yang bersifat edukatif (mendidik) dan aplikatif (penerapan) dalam tujuan mengurangi kesenjangan sosial dan pengangguran dengan tetap menyelaraskan kepada program-progam pembangunan yang telah dicanangkan oleh pemerintah Kota PalangkaRaya khususnya untuk pemberdayaan ekonomi ini..
Harapan lain yang muncul antara lain ketika melihat tujuan KAHMI, yang antara lain disebutkan bahwa tujuan KAHMI adalah “Terbinanya cendikiawan muslim yang berakhlaqul karimah, jujur, adil, dan berdedikasi tinggi (tanpa pamrih) dalam meningkatkan pengabdiannya kepada Allah SWT, serta berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia, demi Kesejahteraan umat manusia menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Dengan demikian bukan hal mustahil harapan yang mulanya tetesan kecil bisa menjadi tetesan besar yang jatuh nya ibarat tetesan air hujan sepanjang masa.

Menjadi catatan penting untuk KAHMI, kejadian ini akan terjadi apabila KAHMI senantiasa melakukan upaya perjuangan keras dalam mewujudkan tujuannya. Terakhir sesuai Anggaran Rumah Tangga HMI keberadaan KAHMI dalam menjaga nama baik HMI, meneruskan misi HMI di medan perjuangan yang lebih luas, dan membantu HMI dalam merealisasikan misinya, perlu dijaga dan dikembangkan. Semoga Allah, SWT senantiasa memberikan taufiq dan hidayahnya.


YAKIN USAHA SAMPAI.

MODERNITAS DAN ARAH GERAKAN HMI

Arah pergerakan peradaban mengarahkan modernitas memasuki pasca-modernitas. Menurut Anthony Giddens (2004), alih-alih memasuki pascamodernitas, kita bergerak ke dalam suatu periode dimana berbagai konsekuensi-konsekuensi modernitas semakin radikal dan teruniversalkan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Di luar batas modernitas, demikian Giddens mengklaim, kita dapat mempersepsikan kontur suatu tatanan baru dan berbeda, yang “pascamodren”; namun cukup berbeda dengan yang pada saat ini disebut banyak orang dengan “pascamodernitas”.

Modernisme yang menjadi ciri dari modernitas adalah fase sejarah dunia yang paling akhir ditandai dengan kepercayaaan terhadap sains, perencanaan, sekulerisme dan kemajuan (Akbar S. Akhmed, 2003, sebagaimana dikutip oleh A. Qodri Azizy dalam Melawan Globalisasi). Jika dilihat asumsi-asumsinya modernitas dibangun dengan asumsi-asumsi filosofis bahwa pengetahuan senantiasa bersifat objektif, netral, bebas-nilai dan terhadap realitas pengetahuan itu positif, gamblang dan jelas (distinctive). Selain itu modernitas tersebut memiliki asumsi bahwa manusia merupakan subjek sedangkan objeknya adalah alam, juga manusia itu adalah pelaku serta penggerak sejarah dan karenanya memegang kendali atas perubahan sosial, politik, ekonomi, dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Dalam asumsinya yang lain, modernitas menempatkan rasio dan akal budi sebagai otoritas satu-satunya yang memiliki kebenaran tak tergugat. Dan puncak dari kesemuanya pada akhirnya modernitas mereduksi ilmu pengetahuan menjadi sekedar metode ilmiah saja.

Peradaban modern lahir dari penolakan terhadap mitos dengan pengedepanan rasionalisme. Namun reduksi ilmu pengetahuan menjadi sekedar metode ilmiah telah mengantarkan modernitas menjadi pemuja mitos baru. Dari situ tercipta keilmuan positivistik yang bersamaan dengan tumbuhnya masyarakat industri melahirkan kemelut modernitas, ditandai dengan lahirnya manusia satu dimensi (meminjam istilah Herbert Marcuse). Dalam peradaban yang dibangun itu segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem yang telah ada, yaitu sistem kapitalisme. Masyarakat tersebut pun bersifat represif dan totaliter, karena pengarahan pada satu tujuan itu berarti menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi lain yang tidak menyetujui atau tidak sesuai dengan sisten tersebut. (J. Sudarminto, 1981 dalam Manusia Multi Dimensional; M Sastrapratedja, Ed)

Tanpa mengabaikan beberapa perkembangan yang telah dicapai peradaban modern, kesadaran akan fenomena modernitas tersebut dalam HMI memunculkan visi pembebasan yang kemudian diimplementasikan dalam berbagai aktivitas gerakan HMI. Adapun perjuangan yang diamanatkan konstitusi HMI, peran HMI sebagai alat perjuangan sampai saat belum terimplementasi secara sadar oleh kader HMI, peran dan fungsi HMI sebagai organ perjuangan dan kaderisasi sesungguhnya merupakan usaha yang merangkum dua tipologi gerakan HMI yang tak boleh terhenti pada tataran wacana. Belajar dari Muhammad SAW yang memulai rekayasa peradaban dimulai dari revolusi kesadaran di Gua Hira, penanaman pola arah perjuangan dan perkaderan HMI diharapkan merupakan pembangunan kesadaran individu kader dan masyarakat luas demi mewujudkan tatanan masyarakat baru yang diridloi Allah SWT.

Revolusi kesadaran tersebut memiliki beberapa aspek yang menjadi basis perjuangannya, dan dalam perkaderan HMI, aspek mendasar yang diperkuat adalah intelektualisme. Penguatan intelektualisme tersebut bersamaan dengan pembangunan kepribadian serta peningkatan kemampuan kader dalam mengkonstruksi gagasannya. Adapun pengkonstruksian gagasan tersebut dilakukan melalui pemetaan yang tepat antara kekuatan dan peluang di satu sisi dengan kelemahan dan tantangan di sisi lain, dan karena itu diharapkan gagasan tersebut bisa dipraksiskan.

Jika disimak dalam tujuan HMI, masyarakat yang dicitakan dapat dipahami dari frasa masyarakat adil makmur yang dirhoi Allah SWT merupakan cita terwujudnya tatanan masyarakat ideal, yang tidak ada pemisahan antara adil dan makmur, karena keadilan dan kemakmuran harus dicapai dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan begitu konsepsi pembentukan masyarakat berkeadilan dalam tema ini sesungguhnya merupakan turunan dari usaha mencapai konsepsi masyarakat yang dicitakan HMI tersebut. Yaitu, perjuangan untuk mencapai kondisi masyarakat cita indonesia atau dengan makna lain baldatun thayibatun warabbun ghofur.

Belajar dari terlalu abstraknya gagasan masyarakat sipil yang menyembunyikan berbagai dominasi dari kelas penindas yang jumlahnya segelintir terhadap mayoritas kelas tertindas, masyarakat berkeadilan yang dimaksud haruslah memiliki visi pembebasan terhadap segala bentuk penindasan. Visi itulah yang membedakan dengan konsepsi masyarakat sipil—yang menurut Henri Veltmeyer dan James Petras (2002)—produk kaum neoliberal. Visi itu pula yang akan terus menjadi nilai dasar per­juangan kader HMI dan melalui berbagai model, visi itu diimplementasikan menjadi gerakan intelektual, gerakan sosial, dan gerakan perkaderan.

HARUSKAH MENGALAH PADA KAPITALIS?

Ketika kita berjalan ditengah pasar, dilorong lorong sempit yang bau di tengah perkampungan kumuh, bergumul dengan desah – desah masayarakat yang hampir setiap hari mengeluh atas kenaikan harga – harga. Dengan kesadaran kritis ada yang perlu di gugat pada masyarakat kita, untuk sadar pada realitas sosial saat ini dimana kebudayaan sesat begitu menggurita di tubuh masyarakat Indonesia. Terhegemoninya pemikiran dan pola tindak tanduk masyarakat oleh Budaya kotor dalam kesehariannya tidak lagi menjadi hal yang luar biasa lagi, sebagaimana pada era – era sebelumnya.. Seseorang yang menyimpang dari etika moral dan norma bukan lagi dianggap sebagai bagian masyarakat yang sakit, melainkan sebagai bagian masyarakat yang harus dipahami kondisinya atas dalih perbedaan adalah sebuah kewajaran karena perbedaan itu adalah kontruksi sosial baru di masyarakat yang harus diakui dan proses yang tidak bisa di sanggah lagi. Ekspektasi dari sebuah Budaya yang sebenarnya rusak telah terjadi dimasyarakat kita. Walhasil jangan salahkan jika Budaya tidak punya malu mewabah di seluruh lapisan masyarakat timur ‘Indonesia’.

Mari kita tengok ungkapan seorang Mahasiswa yang bangga atas perbuatannya melakukan Hubungan diluar nikah, dengan bangganya dia katakan bahwa dia telah melakukan hal-hal diluar batas ajaran Suci Agama. Sedemikian parahnya hegemoni hasil perang kebudayaan, perang pemikiran. Harus diakui bahwa saat ini kita adalah pihak yang kalah.
Kita memang tidak sadar saat ini masyarakat Indonesia telah kesurupan secara massal, setan kapitalis sangat merasuk pada pola fikir dan pola sikap kita. Secara membabi buta pula kita pongah akan kondisi ini, bagaimana tidak? Pola –pola konsumerisme, hedonisme, dan pikiran – pikiran bejat liberal kita acung – acungkan dengan tanpa malu.

Perubahan iklim Budaya yang sangat cepat seolah tak bisa ditunda, dicegah maupun diminimalisir lagi oleh kalangan intelektual. Karena kalangan intelektual yang ada saat ini ibarat mur dan baut pengencang kapitalisme, sehingga bangunannya kokoh tak goyah sedikit pun, kalangan intelektual seperti ini seakan – akan siap mati demi mempertahankan system perusak sendi kehidupan ini. Naudzubillah…

Sementara sebagian kecil orang yang sadar akan hal ini bagaikan kumpulan orang – orang kalah yang masih sombong. Yang dilakukan ‘kalangan sadar’ sebenarnya adalah diam, meskipun mereka berdalih bahwa saat ini mereka sedang melakukan infiltrasi [penyusupan] dalam sebuah system yang terhegemoni, memantik api perlawanan disana sini, untuk menyusun kekuatan, melangkah mundur dari garis depan perjuangan untuk meraih kemenangan. Apakah mereka takut menerima konsekwensi logis sebuah perjuangan ? atau mereka lebih suka menjadi jonggos kapitalis, daripada menjadi seorang yang memiliki harga diri.

Ketakutan sebenarnya ada di Kepala kita, bukan dimana -mana. Menghilangkan rasa takut pada diri kita sangat lah mudah sebenarnya karena kita telah tahu jelas siapa musuh kita. Lawan yang harus di robohkan, yang harus di kalahkan tanpa sisa..

MEMAKNAI HARI BURUH

Minggu ke 2 Mei 2006

Catatan selama Hari Buruh tahun 2006, dari forum diskusi hangat yang selalu berpindah - pindah.


Bukan suatu hal yang mudah untuk merubah sebuah konstruksi sosial, misalnya tentang persepsi arti kata buruh dan pekerja. Yang terbangun saat ini makna kata buruh lebih kasar dibandingkan dengan tenaga kerja, padahal kedua kata ini sama. Seorang pegawai bank jarang yang mau disebut buruh tetapi lebih mau dipanggil pegawai, padahal status sosialnya adalah orang yang bekerja untuk perusahaan milik seseorang atau lebih. Buruh lebih identik dengan kuli, mereka yang bekerja di pabrik, perkebunan maupun lingkup kerja yang lebih luas lainnya.

Awal bulan ini pemerintah dibuat tergopoh – gopoh oleh adanya rencana aksi demonstrasi besar - besaran oleh para buruh. Melalui pernyataan Federasi serikat buruh sebagaimana dilansir media cetak maupun elektronik bahwa mereka akan menurunkan lebih dari 100 ribu buruh untuk ber unjuk rasa di Jakarta pada tanggal 1 Mei 2006. Pemerintah dan beberapa kalangan pengusaha menjadi was – was dengan adanya aksi ini, mantan ketua Umum PBNU Gusdur setidaknya mengatakan bahwa pemerintah saat ini terintimidasi oleh isu aksi buruh.

Beranjak dari sebuah keinginan untuk belajar dan memberikan sikap terhadap proses kesenjangan kebijakan buruh tingkat nasional dan lokal. Berkumpul tidak kurang dari 15 orang mahasiswa dan NGO, tercatat dalam daftar hadir ada Ketua Umum HMI Cabang Palangka Raya, Ketua Presidium PMRI Cabang Palangka Raya, Ketua Bidang Eksternal PMII Cabang Palangka Raya, Presiden BEM UNPAR, Presiden BEM STIH Tambun Bungai, Pergerakan Indonesia, Pakat Borneo.


SOROTAN

Partai Ini Hemat Biaya Politik dengan Rapat via WhatsApp

Partai baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengklaim sebagai partai politik anak muda. Mulai dari ideologi, sampai menjalankan m...